Minggu, 03 Juni 2018

Mengapa Musibah Terjadi Pada Anak-Anak Tuhan, Bahkan Yang Terbaik Sekalipun – Pdt. Benny Solihin

Suara Pendirian

Mengapa Musibah Terjadi Pada Anak-Anak Tuhan, Bahkan Yang Terbaik Sekalipun – Pdt. Benny Solihin


Saya terbeban untuk membawakan suatu topik: “Mengapa musibah terjadi pada anak-anak Tuhan, bahkan yang terbaik sekalipun”. Suatu topik yang sering menjadi pergumulan anak-anak Tuhan termasuk saya di dalam pengenalan kita akan Tuhan. Pergumulan iman, mengapa hal-hal buruk, musibah terjadi pada anak-anak Tuhan, bahkan anak-anak Tuhan yang terbaik sekalipun.
Ada sepasang pemuda pemudi yang saling jatuh cinta, mereka guru sekolah minggu yang baik yang setia. Mereka berjanji kepada Tuhan, kalau Engkau menyatukan kami sebagai suami istri, kami akan hidup sebagai pasangan yang memuliakan nama Tuhan. Dan Tuhan menyatukan mereka sebagai suami istri. Mereka menikah, mereka diberkati dengan income yang makin lama makin baik. Dan janji mereka ditepati, sepasang suami istri ini menjadi aktivis yang terus melayani Tuhan. Tetapi sesuatu hal yang terjadi pada mereka, bertahun-tahun menikah belum dikaruniai anak. Mereka tidak putus asa, mereka terus berdoa dan yakin bahwa mujizat akan terjadi. Tetapi mereka tidak mengabaikan berbobat ke dokter. Pada tahun ke-8 hamillah sang istri. Iman mereka dijawab Tuhan. Mereka bersaksi di mana-mana bahwa kehamilan tersebut adalah mujizat dari Tuhan. Sembilan bulan kemudian lahirlah sang anak. Pada saat anak itu lahir, barulah mereka terkejut bahwa anak tersebut tidak punya kedua lengan. Mereka menangis dihadapan Tuhan. Mereka meratap. Tidak cukup di sana. Beberapa bulan kemudian, sang dokter mendapati mata kedua anak itu buta. Terpukullah mereka. Mereka bukan cuma menangis dan meratap, mereka menjerit kepada Tuhan dan bertanya:
“Mengapa Engkau memberikan anak seperti ini. Engkau mengajarkan kami memberi yang terbaik dan kami telah memberi yang terbaik kepada-Mu, tetapi mengapa Engkau memberi anak yang seperti ini. Kalau Engkau tidak suka memberi, lebih baik jangan memberi sama sekali. Tetapi kalau Engkau mau memberi, beri yang terbaik, Tuhan.”
Saudara yang dikasihi Tuhan, membingungkan bukan, mengapa hal terburuk bisa terjadi pada anak Tuhan, bahkan anak-anak Tuhan yang terbaik sekalipun?
Jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 pada Minggu, 28 Desember 2014 mengharukan kita semua. Melihat tanyangan saja sudah memilukan hati. Apalagi kita sempat kenal dengan korban yang kita kenal 162 korban banyaknya, apalagi kalau salah satu korban adalah keluarga kita. Betapa hancurnya hati kita. Apa yang terjadi pada musibah itu. Tidak bisa tidak akan mengundang pertanyaan kita, mengapa Tuhan, mengapa itu terjadi? Kenapa itu terjadi, Tuhan?  Bukankah di dalam pesawat itu begitu banyak anak Tuhan, bahkan di dalam pesawat itu ada satu keluarga missionaris yang mengabdi diri pindah dari negara lain ke negara kita hanya untuk mengabarkan Kasih Kristus. Tetapi mati secara tragis seperti itu. Pertanyaan kita adalah:
Mengapa Tuhan, mengapa itu terjadi. Mengapa Engakau tidak melindungi mereka?
Apa dosa mereka, Tuhan?
Pertanyaan ini cukup membingungkan kita bukan? Kalau kita baca koran setiap hari, melihat berita, melihat tanyangan TV, membaca internet dipenuhi dengan hal-hal yang begitu buruknya. Perampokan di mana-mana, pemerkosaan, perang di mana-mana, musibah juga ada di mana-mana dan beberapa korban mencakup anak-anak Tuhan pula. Bukankah ini menimbulkan pertanyaan kepada kita:
Mengapa itu terjadi dan mengapa Tuhan membiarkan musibah terjadi pada anak-anak-Nya?
Saya percaya bahwa pertanyaan ini harus dijawab. Kalau pertanyaan ini tidak dijawab, ini menimbulkan suatu problem di dalam diri kita, yang akan membawa kekecewaan kepada Tuhan lalu sampai menimbulkan tidak percaya kepada Tuhan, murtad dari jalan Tuhan. Harus kita jawab. Harus kita mendapat suatu pegangan agar iman kita tidak goyah. Tetapi jelas pertanyaan ini adalah pertanyaan serius yang tidak mudah dijawab dan jawabnya tidak sesederhana yang kita pikirkan: ya atau tidak, hitam atau putih. Sebagaian besar dari jawaban itu, atau sisa di ujung jawaban itu adalah misteri Allah sendiri. Tetapi saya akan mengungkapkan yang Alkitab ungkapkan. Mengapa musibah terjadi pada anak-anak Tuhan, bahkan anak-anak Tuhan yang terbaik sekalipun.
Jawaban yang PERTAMA adalah dosa yang diperbuat umat-Nya.
Pada kitab Amos 4:9-11, tertulis demikian:
9 “Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum, telah melayukan taman-tamanmu dan kebun-kebun anggurmu, pohon-pohon ara dan pohon-pohon zaitunmu dimakan habis oleh belalang, namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN.
10  “Aku telah melepas penyakit sampar ke antaramu seperti kepada orang Mesir; Aku telah membunuh terunamu dengan pedang pada waktu kudamu dijarah; Aku telah membuat bau busuk perkemahanmu tercium oleh hidungmu; namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN.
11  “Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora, sehingga kamu menjadi seperti puntung yang ditarik dari kebakaran, namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN. (TB-LAI)
Latar belakang kitab Amos ditulis ketika umat Allah, Israel hidup di dalam kegelapan. Menolak Firman, penyembahan berhala, perzinahan, percabulan, menindas orang miskin, berbuat hal-hal yang tidak menyenangkan Allah, bahkan para imam melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Lalu TUHAN menegur mereka berkali-kali, tetapi mereka tidak bertobat. Sehingga TUHAN menuliskan ayat tersebut melalui Amos. Siapakah yang mendatangkan kesulitan ekonomi di Israel? Siapakah yang mendatangkan kesulitan hidup di Israel? Jawabnya jelas: Allah sendiri. Allah tidak menutup-nutupi. Allah yang membuat.
9  “Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum, telah melayukan taman-tamanmu dan kebun-kebun anggurmu, pohon-pohon ara dan pohon-pohon zaitunmu dimakan habis oleh belalang, namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN.
10  “Aku telah melepas penyakit sampar ke antaramu seperti kepada orang Mesir; Aku telah membunuh terunamu dengan pedang pada waktu kudamu dijarah; Aku telah membuat bau busuk perkemahanmu tercium oleh hidungmu; namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN.
11  “Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora, sehingga kamu menjadi seperti puntung yang ditarik dari kebakaran, namun kamu tidak berbalik kepada-Ku,” demikianlah firman TUHAN. (TB-LAI)
Siapa yang mendatangkan penyakit di antara orang-orang Israel? Siapa yang mendatangkan kekalahan perang sehingga taruna-taruna Israel mati terbunuh oleh musuh? Jawabannya bukan oleh kekuatan lawan tetapi karena Allah sendiri yang mendatangkannya. Apa tujuannya? Apa sebabnya? Karena Israel sudah hidup dalam dosa. Apa tujuannya? Supaya mereka berbalik kepada Tuhan. Bertobat!
Siapa yang mendatangkan malapetaka, gempa bumi, bencana di kota-kota Israel? Jawabannya adalah Allah, bukan sekadar alam. Kenapa Allah melakukannya? Supaya Israel berbalik dari dosa mereka. Jadi mari kita simpulkan apa yang Tuhan katakan dalam firman-Nya bahwa musibah atau hal buruk terjadi pada anak Tuhan bahkan yang terbaik sekalipun, karena dosa mereka. Berat mengatakan ini bukan? Tetapi inilah firman Allah. Itu berarti dosa punya konsekuensi yang betul-betul berat dan ganas. Ini menjadi pelajaran bagi Israel dan menjadi pelajaran bagi engkau dan saya sebagai gereja dan umat Tuhan, jangan bermain-main dengan dosa. Allah akan menegur dengan lembut, semakin lama semakin keras. Dan semakin lama pada puncak kekerasan, Ia mendatangkan hal-hal seperti itu. Tetapi kita lihat pada tempatnya, karena kita anak yang disayang, maka ditegur-Nya. Karena kita dikasihi-Nya maka teguran itu semakin keras, sampai pada akhirnya memukul kita supaya kita berbalik dan bertobat.
Tetapi ini bukan satu-satunya jawaban. Alkitab masih memberikan kemungkinan lain.
Yang kedua, adalah karena ada kemuliaan Allah yang hendak dinyatakan oleh Allah. Dosa selalu mengakibatkan hal-hal buruk terjadi, tetapi tidak selalu hal-hal buruk terjadi karena hukuman dosa. Itu berbeda. Tidak bisa otomatis terjadi A=B, B=A. Tidak.  Mari kita lihat Injil Lukas 13:1-5
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2  Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (TB-LAI)
Rupanya ada musibah menara Siloam jatuh, lalu yang mati 18 orang. Pikiran orang Israel, setiap musibah, setiap hal buruk terjadi karena dosa. Memang TUHAN mengatakan demikian Perjanjian Lama, dalam Amos di atas. Tetapi Yesus secara mengejutkan berkata:  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian (ayat 5). Di sini muncul paradigma baru, tidak selalu hal-hal buruk terjadi pada umat Allah karena dosa mereka. Tidak.
Kita masuk ke penggambaran yang lain, yaitu di Injil Yohanes 9:1-7 (TB-LAI). Cerita tentang orang sejak lahirnya buta:
1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 2  Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” 3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. 4  Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5  Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” 6  Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7  dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Coba perhatikan ayat 1 dan 2:
1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
2  Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya:
“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”
Coba perhatikan paradigma orang Israel, umat Allah dari Perjanjian Lama: kalau ada musibah, ada hal buruk terjadi, termasuk kelahiran anak cacat itu karena dosa. Entah dosa anak itu, entah dosa orang tuanya. Paradigma orang-orang zaman sekarang juga demkian, begitu anaknya cacat, orang-orang berpikir, dosa apa yang dilakukan orangtuanya. Sama dengan paradigma orang Israel. Tetapi yang mengejutkan jawaban Yesus di ayat 3:  “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya. Bila demikian, siapa yang melakukan dosa sehingga anak ini buta sejak lahir? Kemudian Yesus melanjutkan berkata: tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Saya duga, para murid di sana, orang-orang yang mendengar jawaban ini sungguh akan tercengang dan mengerutkan dahinya. Mengapa? Jawabannya bukan karena dia, bukan karena orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Tuhan akan dinyatakan di dalam dirinya.
Ada paradigma baru, ternyata kecacatan orang buta ini sekarang dihubungkan dengan pekerjaan Tuhan. Kalau begitu orang itu cacat tidak lepas dari rencana Tuhan, bukan? Kita mulai sukar menerima. Saya kira para murid dan para pendengar juga sukar menerima. Bagaimana mungkin Allah yang Mahakuasa, memberikan anak yang buta. Bagaimana mungkin Allah yang Mahakasih membiarkan seseorang lahir dengan kecacatannya. Apa untungnya Tuhan? Kalau Dia Mahakasih, lahirkanlah anak yang sempurna. Kalau Dia Mahakuasa, jangan biarkan seorang pun lahir anak cacat, bukan? Kita tidak mau punya Allah yang membiarkan anak lahir cacat. Kita berpikir: Tidak mungkin, orang cacat lahir karena rencana Allah. Lalu kalau bukan karena rencana Allah, karena siapa? Kalau kita berkata ada orang cacat tidak direncakan Allah, kalau begitu ada orang yang lahir ke dunia tidak direncanakan Allah. Lebih sulit menerima argumen ini, bukan? Kalau begitu Allah tidak Mahakuasa. Kenapa bisa ada orang yang lahir dalam keadaan punya kebutuhan khusus, cacat, idiot, kalau demikian Allah tidak Mahakuasa. Saya boleh berkata dari ayat ini, tetap ada hubungan antara anak lahir tidak normal dengan rencana Allah. Allah tidak pernah khilaf.
Tuhan TIDAK PERNAH seperti ini:
tiba-tiba suatu hari Tuhan kaget:
Tuhan      : Celaka!
Malaikat : Celaka apa Tuhan?
Tuhan      : Itu yang lahir di desa di Jawa Timur, ibu muda itu sudah melahirkan apa belum?
Malaikat : Sudah Tuhan, dua hari lalu.
Tuhan      : Waduh Aku lupa, Aku lupa. Bagaimana anaknya?
Malaikat  : Cacat, Tuhan.
Tuhan      : Cacat? Waduh Aku lupa, Aku khilaf.
Lalu malaikat menghibur.
Malaikat  : Tidak apa, namanya saja Tuhan, kan bisa khilaf. Bukankah pekerjaan Tuhan banyak mengurusi dunia ini.
Tuhan     : Tidak. Itu salah-Ku, salah-Ku. Aku kurang perhatian.
Saudara percaya ada Tuhan seperti itu? Kita akan berontak dan berkata: Tidak! Tuhan tidak seperti itu.
Lalu mengapa orang cacat? Yesus berkata, karena ada pekerjaan-pekerjaan Allah yang akan dinyatakan pada diri orang itu. Saudara sukar menerima atau tidak menerima, itulah yang dikatakan Yesus. Jadi memang Allah yang mendesign seperti itu. Itu berarti Allah juga Allah orang cacat, Allah adalah Allah orang autis, Allah adalah Allah orang punya kebutuhan khusus, Allah adalah Allah orang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Ada rencana Allah.
Mari kita simak perjalanan orang buta itu.
 6  Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Perhatikan, ketika orang itu bertemu dengan Yesus, Yesus menyuruh orang itu  mencuci / membasuh dirinya, setelah Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludahnya dengan tanah, lalu mengoleskan pada matanya yang buta. Dia kembali dan menjadi sembuh. Kemudian apa yang diperbuat orang itu? Dia bersaksi di mana-mana bahwa dia disembuhkan oleh orang yang bernama Yesus, sampai diinterogasi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sampai dia berkata: aku tidak kenal siapa yang bernama Yesus, tetapi Dialah yang menyembuhkan aku. Dia menyaksikan di mana-mana bahwa Yesuslah yang menyembuhkan. Di sinilah dia menjadi saksi, di sinilah menjadi alat kemuliaan Tuhan. Untuk inilah yang Tuhan katakan, ada pekerjaan Allah yang dinyatakan dalam diri orang ini. Jadi dia didesign Allah buta untuk titik seperti ini, untuk waktu seperti ini, untuk peristiwa seperti ini, yaitu ketika sembuh dia menyaksikan semua apa yang Allah buat dalam dirinya sehingga nama Allah dimuliakan. Saudara mulai mengerti peristiwa ini? Mungkin kita bisa menerima kalau pada akhirnya orang-orang yang cacat itu sembuh, tetapi mungkin ada seorang di antara kita berontak.
Bapak tahu tidak, saya punya anak idiot. Dia sudah berumur 30 tahun, saya merawatnya dan menantikan kemuliaan Allah hadir. Tidak terjadi apa-apa. Apa indahnya punya anak yang idiot. Apa indahnya punya anak yang terus ngiler terus di usia 30 tahun. Di mana kemuliaan Allah?
Itu pertanyaan yang sulit sekali dan secara hati, saya empati sekali. Tidak mudah bukan? Saya kenal seorang hamba Tuhan dengan istrinya yang mengabdi kepada Tuhan yang punya anak autis, kehidupan sudah sulit setengah mati. Dia berkata hidupnya terbalik-balik, ketika malam kami harus tidur, anak kami bangun, dia berputar-putar dan main-main. Hidup seperti itu seringkali kami berselisih tentang anak. Anak kedua lahir, autis lagi. Lalu mereka berkata, Tuhan mau apa? Tidak mudah. Kalau akhirnya anak autis itu menjadi anak yang cemerlang dan gemilang, bukankah kita akan memuji Tuhan. Tetapi berapa banyak anak autis, ADHD yang pada akhirnya tidak bisa melihat jadi apa dia. Lalu bisakah kita mengatakan ada kemuliaan Tuhan yang dinyatakan di dalam dirinya? Ya kalau sembuh. Ya kalau mujizat terjadi, bisa percaya ada rencana Tuhan dalam diri anak mereka. Tetapi sudah 30 tahun mereka  tunggu, tidak terjadi. Ini sulit sekali. Coba kita pikirkan, kemuliaan Tuhan hadir dalam diri anak yang punya kebutuhan khusus. Bukan berarti mujizat harus selalu terjadi, baru kemuliaan Tuhan hadir dalam dirinya. Mujizat tidak harus selalu terjadi.
Saya pernah sekolah di Amerika. Ada satu hal yang berbeda dengan orang-orang yang disabled. Kalau di Amerika, mereka tidak malu bahkan berkewajiban membawa orang-orang disabled baik di kursi roda ke tempat-tempat umum (public space). Kalau orang kita, sering disembunyikan di rumah karena malu. Apalagi kalau di mall banyak orang yang melihat, kita yang membawa juga malu bukan. Apalagi orang yang tidak beretiket menunjukkan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Tetapi di Amerika dibawa ke tempat-tempat keramaian, bahkan ke Disney Land. Ada seseorang yang di kursi roda dengan mesin, berangkat study sendiri. Orang itu sudah dewasa tetapi badannya kecil. Seringkali ketika saya melihat orang-orang seperti ini waktu menatap, saya tidak menunjukkan ekspresi, ketika melirik hati saya berkata: “Tuhan, Dia ciptaan-Mu. Kau Allah Maha Besar, Kau punya rencana.”
Atau kita berpikir, “Tuhan kenapa aku yang diberikan tubuh yang sempurna.”
Pada akhirnya orang-orang itu mengingatkan kita pada Pencipta kita, bukan? Secara tidak langsung. Bukankah ini sudah termasuk karena pekerjaan Allah yang akan dinyatakan pada diri orang yang cacat ini. Untuk menjadi pengingat akan Pencipta kita. Itu saja sudah terjadi bukan?
Contoh lagi lain. Anda pasti kenal dengan Fanny Crosby. Seorang black yang lahir dari keluarga miskin, ayah ibunya miskin, hidup mereka susah sekali. Pada umur beberapa hari, Fanny Crosby demam. Ayahnya membawa ke dokter, oleh dokter dikasih obat. Dampaknya, matanya buta total. Betapa marah ayah Fanny Crosby. Anak yang normal karena mallpraktek seorang dokter akhirnya cacat. Ayahnya tidak bisa menerima kepada Tuhan. Ayahnya depresi, frustasi sampai akhirnya ayahnya meninggal dunia. Tinggallah Fanny Crosby dengan ibunya, ibu dengan anaknya yang cacat itu. Pada akhirnya dibawalah Fanny Crosby ke rumah yatim piatu. Bagaimanakah masa depan dia? Kemuliaan Tuhan apa yang ada di Fanny Crosby? Anak miskin, kulitnya black, yatim piatu. Tapi tunggu, apakah Fanny Crosby akan disembuhkan secara mujizat? Ternyata tidak. Sampai Fanny Crosby meninggal ketika dia dewasa tetap buta. Tetapi saudara tahu, di dalam kebutaannya dia dipakai Tuhan dengan heran. Dia menulis lagu-lagu Kristen, mungkin berjumlah 8.000 lagu banyaknya.  Begitu nyanyi, kita terdorong untuk melihat kekuatan Tuhan, kita ditarik lebih dekat kepada Tuhan. Ini adalah salah satu lagu ciptaan Fanny Crosby:
Jaminan mulia, ‘ku diberi,
kar’na Yesus milikku abadi;
aku waris-Nya, ‘ku ditebus,
kar’na dibasuh, darah kudus.
Reff:
Kami masyhurkan, kami puji,
tentang Yesusku, selamanya.
Kami masyhurkan, kami puji,
tentang Yesusku, selamanya.
Lagu itu hasil seorang buta bernama Fanny Crosby. Ketika seorang wartawan bertanya kepada dia:
“Kalau ada dokter bisa menyembuhkan engkau, maukah engkau disembuhkan?”
Fanny Crosby berkata: tidak.
Fanny Crosby lebih senang tetap buta agar tetap dekat dengan Tuhan.
Saudara perhatikan. Suatu kali kelak ketika Fanny Crosby meninggal dunia, dia percaya matanya akan dicelikkan Tuhan,  dan wajah pertama yang ingin dia lihat adalah Juruselamatnya, Yesus. Tidak ada persoalan dengan kebutaan dia, dia tidak menuntut Allah untuk mengadakan mujizat, bahkan dia senang dengan kebutaannya agar dia tetap bisa dekat dengan Tuhan. Sampai akhir hidupnya Fanny tidak pernah disembuhkan, tidak pernah terjadi mujizat Tuhan. Tetapi kemuliaan Tuhan bekerja dalam diri orang buta ini. Tidak selalu kita mengalami mujizat Tuhan, baru kemudian kemuliaan Tuhan dinyatakan. Dalam kasus orang buta yang Yesus katakan memang disembuhkan, tetapi tidak selalu, tetapi selalu kemuliaan Allah dinyatakan.
Ada contoh lain, seorang businessman. Seorang yang sangat kaya, bisnisnya tidak pernah berbuat curang, dia saleh, dia takut akan Tuhan. Dia hidup dengan Tuhan begitu dekatnya. Kalau malam tiba, dia mengucapkan doa untuk ke-10 anak-anaknya, mohon ampun kepada Tuhan bila mereka melakukan kejahatan. Tetapi suatu kali hartanya dirampok habis-habisan, tidak tersisa sedikit pun. Lalu ke-10 anak-anaknya terkena musibah bencana, mati semua. Kematian 1 orang yang kita kasihi, sudah mendukakan kita, apalagi mati bersamaan.
Saya tidak bisa membayangkan peristiwa Air Asia, ketika keluarga yang ditinggalkan tinggal 1 orang, seluruhnya habis. Ada seorang gadis yang bengong, wajahnya lesu, tinggal dia sendirian. Biasanya bila ada masalah bisa telpon, SMS kepada papa, mamanya. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Bisnisman tadi malah kehilangan 10 anak-anaknya. Dan businessman ini hancur habis-habisan, seluruh kesehatannya menurun, bahkan Alkitab mengatakan dari ujung rambut sampai ujung kaki penuh dengan borok. Teman-temannya datang bukan menghibur tetapi menuduh, pasti ada dosa yang dilakukan. Kalau tidak, tidak mungkin jadi seperti ini. Menjeritlah hatinya. Bahkan istrinya berkata “buat apa kamu memuji Allah seperti itu, buat apa menyembah Allah seperti itu, tinggalkanlah Allah seperti itu.” Nama orang ini Ayub. Mari kita cari lebih dalam mengapa Ayub tertimpa musibah yang begitu mengerikan.
Mari kita perhatikan Ayub 1:6
6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis. 7  Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” 8  Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
9  Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? 10  Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. 11  Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”
12  Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.
Jadi apa sebabnya hamba Tuhan yang bernama Ayub itu sampai mengalami penderitaan karena musibah yang mengerikan itu. Bisnisnya habis, keluarga berantakan, seluruh kesehataannya hilang. Apa sebabnya? Ternyata sebabnya tidak ada sangkut paut dengan diri Ayub. Ayub tidak melakukan kesalahan dihadapan Tuhan. Ayub tidak cemar dihadapan Tuhan. Ternyata sebab Ayub tertimpa musibah karena ada pertaruhan di alam sana antara Allah dengan Iblis. Pertaruhan ketika Allah berkata, Aku menjamin dia tetap setia kepada-Ku. Kalau begitu Ayub cuma pion di tengah pecatur yang ulung. Timbul gejolak tidak mengamati peristiwa ini? Hanya untuk membuktikan ada manusia yang setia, Allah mengorbankan hidup Ayub, membiarkan dia menderita sedahsyat-dahsyatnya membiarkan anak-anaknya mati mengerikan. Hanya untuk membuktikan ada orang yang setia. Dengan kata lain, Allah sedang menggunakan nama Ayub untuk kemuliaan nama-Nya sendiri. Kejam tidak?
Orang Amerika paling marah dengan kata menggunakan orang. Itu hal yang jahat. Ini yang Allah yang lalukan. Kalau saudara mengikuti kasus bank Century, bertahun-tahun tertutup, sampai hari ini kita tidak tahu siapa dalangnya. Tetapi bawahan-bawahannya sudah di penjara. Bawahannya itu dikorbankan, sampai hari ini kita tidak tahu siapa dalangnya. Bawahan-bawahan itu digunakan oleh atasannya untuk kepentingan nama baiknya. Bukankah Allah sama dengan kasus Century? Dia mempergunakan hidup Ayub yang berantakan demi untuk kebaikannya. Apakah Allah seperti ini benar? Apakah Allah seperti ini tidak kejam? Sebelum mengambil kesimpulan, mari kita perhatikan ayat di Kolose 1:16:
6 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (TB-LAI)
Manusia diciptakan Tuhan untuk kemuliaan Tuhan. Segala sesuatu diciptakan Dia untuk kemuliaan Tuhan. Memang manusia diciptakan, didesign untuk itu oleh Tuhan. Salahkah kalau Allah menggunakan untuk kemuliaan-Nya? Kalau manusia mengeksploitasi manusia lain, itu salah, karena manusia itu tidak menciptakan manusia yang lain. Termasuk seorang bapak tidak boleh mengeksploitasi anaknya. Kalau bapak itu pernah bercita-cita jadi dokter dan dia tidak sanggup jadi dokter karena banyak hal rintangan, lalu dia punya anak, anaknya ingin kuliah di bidang seni, tetapi bapaknya melarang lalu memasukkan dia ke bidang kedokteran untuk nama baiknya. Ini jahat. Bolehkah Allah mempergunakan hidup kita untuk nama baik-Nya? Jawabannya boleh. Memang ketika Dia menciptakan kita tujuannya adalah untuk nama baik-Nya. Dalam bahasa Inggris istilahnya adalah  our live is not about us, but about God. Jadi hidup kita bukan tentang kita, tetapi tentang Allah Pencita kita. Allah boleh mempergunakan hidup kita, Dia Pencipta kita.
Saya memberi gambaran. AC diciptakan oleh siapa? Manusia. Bolehkah manusia menciptakan AC dan membeli AC untuk kenyamanan dirinya? Tentu boleh. Sah-sah saja. Tahukah saudara bahwa AC saat ini sedang kerja keras. Banyak AC menangis, merintih, mengeluh, konseling kepada pendeta termasuk ke saya. AC berkata: Pak, bapak kan pendeta..tolong dong pak sampaikan suara hati kami para AC yang sering dieksploitasi. Kami tahu pak, kami diciptakan untuk kenyamanan manusia, tapi tolong kalau mempergunakan kami jangan langsung dari 24 derajat ke 16 derajat, itu yang membuat kami lebih lelah. Celakanya kalau sudah 16 derajat,suhu yang  sudah dingin lalu dikembalikan lagi ke 24 derajat. Kasihan AC, dengarkanlah suara hati AC.
Tapi sah-sah saja kita pergunakan memang AC kita beli untuk kenyamanan manusia. Dia diciptakan untuk kenyamanan manusia. Ada tidak orang membeli untuk kebahagiaan AC. Ada tidak? Ada, ya saya. Saya bayangkan kalau ke toko AC. Lalu saya beli satu AC, AC pasti bicara: jangan pilih aku. Lalu saya beli, AC itu nangis, teman-temannya menangis.
Lalu saya berkata : AC jangan menangis.
AC berkata : engkau akan mengeksploitasi aku kan?
Saya berkata: tidak, saya tidak sama dengan orang lain. Saya membeli kamu justru untuk kebahagiaan kamu. Lalu saya buka dos. Lalu AC itu saya tutup dengan lap, lalu saya pergi kantor.
Setelah saya sampai rumah, AC kuatir lagi.
Sehari dua hari, AC sadar bahwa jarang ada orang seperti saya. Kenapa ada orang beli AC tetapi tidak mempergunakan AC.
Ada tidak orang seperti itu? ada, saya.
Saudara tidak perlu seperti itu, mau pakai AC dari 24 derajat ke 16 derajat, nyala 24 jam juga boleh asal kuat bayar listriknya. Kalau rusak panggil teknisi. Rusak lagi panggil lagi teknisi, sampai suatu saat tidak bisa diperbaiki, buang AC itu, beli AC baru. Kita adalah tuan. Kita beli untuk kepentingan kita. Kalau kita saja beli AC boleh untuk kenyamanan kita, apakah saudara pikir Allah tidak boleh memakai kita seperti itu?
Apakah kita sama dengan AC? Berbeda.
Di sini bedanya. Ketika kita mempergunakan AC, kita mempergunakan benda, kita tidak mengerti dan tidak mau mengerti perasaannya. Tetapi ketika Allah mempergunakan kita untuk alat kemuliaan-Nya seringkali banyak hal yang tidak kita pahami, seringkali penderitaan, kekurangan, ketelanjangan terjadi dalam hidup kita. Tetapi jangan berpikir kalau Allah tidak punya perasaan, Allah meninggalkan kita. Saat kita mengerang, saat kita meratap, saat kita menangis, karena kita dipakai Tuhan, Tuhan datang kepada kita. Tuhan memegang kita, Tuhan memeluk kita. Tuhan berkata Aku tidak meninggalkan engaku, anak-Ku. Di situlah berbedanya kita dengan barang yang bernama AC, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan ketika Allah mempergunakan hidup kita, di situlah kebahagiaan yang sejati, kemuliaan yang tertinggi, damai sejahtera yang diluar pikiran manusia terjadi dalam hidup yang tidak pernah dialami, kecuali kita membiarkan diri kita dipakai oleh Tuhan menjadi alat kemuliaan-Nya. Itu sebabnya banyak anak Tuhan yang hidupnya sudah begitu sulit, musibah terjadi luar biasa, bahkan berkali-kali, tetap bisa memuliakan Tuhan, tetap bisa dekat dengan Tuhan, tetap bisa bersyukur, karena mereka menikmati kemuliaan Allah hadir dalam dirinya. Itu sebabnya misionari di dalam tantangan pelayanan yang berat, itu sebabnya banyak pendeta di dalam yang hidup kekurangan yang berat dan tekanan yang hebat tetap menjadi hamba Allah. Mengapa? Karena mereka menikmati kebahagiaan yang sejati. Kemuliaan yang tertinggi di dalam hidup manusia yang hanya bisa dicapai ketika kita membiarkan Tuhan memakai diri kita. Allah itu berdaulat atas hidupku atas hidupmu. Kalau Dia mau memakai engkau dan saya, Puji Tuhan. Bahkan kalau pun terjadi hal-hal yang sungguh menggertarkan hati, tetaplah bersyukur, karena engkau menjadi alat kemuliaan-Nya.
Ada seorang pengarang lagu berkulit black, bernama Thomas A. Dorsey. Pada tahun 1930an, dia seorang penyanyi rohani yang seringkali dipakai Tuhan di mana-mana, terutama dalam kelompok Baptis, dia dipakai untuk KKR di mana-mana termasuk penginjilan Billy Graham. Suatu kali dia mendapat undangan ketika ada KKR besar di St. Louis, dia ada di Chicago, dia sudah ragu menerima undangan ini, karena istrinya sedang hamil besar. Dia berdoa kepada Tuhan, dia yakin harus memprioritaskan Tuhan, dia yakin menerima pelayanan itu. Istrinya mengizinkan pergi. Tetapi dia ragu, karena istrinya dalam keadaan sakit, karena istrinya mengizinkan dia pergi mencari bis. Jarak Chicago ke St. Louis cukup jauh, berjam-jam. Waktu dia mencari bis, dia lupa membawa kumpulan lagu-lagunya. Dia balik lagi ke rumah, dia mendapati istrinya sedang tidur. Dia tahu istrinya sedang sakit, dia ingin menemani istrinya, tetapi dia putuskan Tuhan adalah prioritasnya, Tuhan akan menjaga istirnya, dia tidak membangunkan istrinya, dia pergi lagi. Malam pertama KKR, pujian dibawakan Thomas A. Dorsey. Betapa hebatnya jemaat yang ribuan bernyanyi untuk Tuhan, melihat keagungan Tuhan dan mereka menyanyikan lagu-lagu yang dikarang oleh Thomas A. Dorsey. Setelah selesai pujian, dia duduk ke belakang, jemaat masih bernyanyi untuk Tuhan. Seorang menghampiri dia membawa  sebuah telegram yang memberi kabar bahwa istirnya meninggal dunia. Dia terdiam terpaku, ditengah-tengah jemaat yang masih menyanyikan kehebatan Tuhan, hatinya meratap dengan hancur. Dia lari kebelakang, dia menangis kepada Tuhan: Kenapa Tuhan tidak menjaga istriku, aku pergi untuk melayani-Mu. Dia pulang malam hari itu, sampai di rumahnya, orang-orang sudah  berkumpul di situ. Ketika dia masuk dia cuma melihat istrinya sudah berbaring. Betapa pedihnya. Seorang dokter datang dan berkata kepada dia, bahwa anaknya selamat. Ternyata anaknya hidup. Dia pergi ke rumah sakit dan dokter di sana berkata ternyata anaknya meninggal dunia. Setelah pemakaman kedua orang yang dicintai, Dorsey tidak lagi mau menyanyikan lagu untuk Tuhan. Dia kecewa kepada Tuhan, dia merasa Tuhan jahat, dia merasa Tuhan tidak berperasaan. Dia kembali ke kehidupan lama menjadi pemusik di cafe-cafe, di night club, dia penyanyi lagu jazz, dia melupakan lagu-lagu rohani. Hidupnya makin terpuruk dan makin terpuruk. Dia duka dan kecewa kepada Tuhan.
Suatu hari teman baiknya mengajak ke sekolah musik. Dorsey yang sedang tidak punya pekerjaan ikut temannya. Temannya sedang berbicara tentang bisnisnya, sementara itu Dorsey di dalam ruang itu sendiri, dia bingung apa yang harus dia kerjakan. Lalu ia duduk di depan piano, dia tidak mengerti apa yang harus dikerjakan. Menunggu sungguh membosankan, dia mau memainkan lagu, dia tidak mengerti lagu apa yang dimainakan , tidak ada satu lagu pun yang teringat. Dia kemudian memencet tuts-tuts itu, seperti seolah-olah ada yang membimbing dia, yang meminta dia memainkan lagu yang tidak dikenal nadanya. Begitu memainkan terus-menerus, tiba-tiba ada yang seolah-olah ada yang memberikan lirik kepadanya, lirik yang mengungkapkan isi hatinya, sembari dia memainkan tuts-tuts piano sembari dia bernyanyi, sembari air matanya turun, lagu apa yang tercipta saat itu, dia mengulang-ulang lagu itu.
Dia bernyanyi:
Tuhanku pimpinlah tanganku,
peganglah ku letih..ku lesu..ku lemah
Lewat malam gelap…
ke terang yang tetap…
Tuhanku pimpinlah ke seberang.
Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I’m tired, I’m weak, I’m lone
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand precious Lord, lead me home
When my way grows drear precious Lord linger near
When my light is almost gone
Hear my cry, hear my call
Hold my hand lest I fall
Take my hand precious Lord, lead me home
When the darkness appears and the night draws near
And the day is past and gone
At the river I stand
Guide my feet, hold my hand
Take my hand precious Lord, lead me home
Precious Lord, take my hand
Lead me on, let me stand
I’m tired, I’m weak, I’m lone
Through the storm, through the night
Lead me on to the light
Take my hand precious Lord, lead me home
Suatu lagu yang merupakan curahan hati dia, dinyayikan sembari mengangis. Apa yang terjadi? Roh Kudus sedang membimbing dia untuk mengungkapkan perasaannya kepada Tuhan. Di situlah Tuhan menyembuhkan dan memulihkan dia kembali. Di situlah dia disadarkan bahwa tanpa Tuhan membimbing, hidupnya akan hancur. Di situlah dia berkata, pimpin aku Tuhan sampai ke seberang. Dia akhirnya kembali jadi anak Tuhan. Dia meninggalkan klub itu. Dia kembali menulis lagu, dia kembali menggubah lagu-lagu Kristen. Sampai usia 90an tahun Dorsey meninggal dunia. Di pemakamannya orang melihat bayang-bayang seorang yang betul-betul dipakai untuk kemuliaan Tuhan melalui peristiwa yang betul-betul menghancurkan hati.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ketika musibah terjadi pada diri kita, jangan marah kepada Tuhan. Jangan merasa Tuhan kejam. Tuhan  punya rencana dalam hidupmu dan hidupku. Ada kemuliaan Tuhan yang akan terjadi pada dirimu dan diriku. Tetaplah katakan: Tuhan, aku tidak kuat. Tetapi kalau Engkau memegang tanganku, memimpin langkahku, aku yang lemah,  yang letih dan lesu akan menjadi saksi-Mu untuk kemuliaan Engkau. Sampai suatu kali kita akan pulang ke rumah Tuhan, ketika mata kita terbuka, apa yang terjadi? Kita akan mendengar suara Tuhan kita,
“Mari hamba-Ku yang baik dan setia, masuklah, Aku telah menyediakan perjamuan untukmu.”
Kemuliaan Allah sempurna. Di sanalah tidak ada lagi penderitaan, di sanalah tidak ada lagi air mata, di sanalah tidak ada lagi musibah, kita akan berkumpul dengan orang-orang yang pernah meninggalkan kita. Orang-orang yang mati secara tragis, ternyata mereka telah berkumpul terlebih dulu. Inilah iman orang percaya, kita akan reuni akbar di sana. Dan mereka berkata,
“Hidup kita yang di dunia yang sementara itu, sebenarnya dengan penderitaan yang terjadi, tidak berarti apa-apa dibanding kemuliaan yang sekarang kita nikmati.”
Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.
Segala kemuliaan hanya bagi Allah Bapa dan segala Pujian bagi Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus.
Copyright (c) Pdt. Benny Solihin.
Pengutipan dari artikel ini harus mencantumkan:
http://revival.or.id/Suara Pendirian

Minggu, 22 April 2018

Dana Desa Belum Berdampak

Mendi blog.
Suara Pembaruan; Rabu, 4 April 2018
[JAKARTA] Dana desa yang digelontorkan pemerintah sejak 2015 belum menunjukkan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat di desa. Salah satu penyebab adalah sebagian besar dana desa justru dibelanjakan di perkotaan. Data Badan Pusat Statistisk (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk miskin di perdesaan pada September 2017 mencapai 16,3 juta jiwa atau 13,47% dari jumlah penduduk di desa. Meski turun dibandingkan Maret 2017 yang sebanyak 17,1 juta jiwa (13,93%), proporsi jumlah penduduk miskin di perdesaan hampir dua kali lipat dibandingkan penduduk miskin perkotaan sebanyak 10,3 juta jiwa atau 7,26% dari jumlah penduduk kota. Pemerintah melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengklaim bahwa manfaat dana desa telah dirasakan masyarakat. Namun, faktanya, dampak positif itu belum dirasakan seluruh desa, seperti yang terjadi di Kupang, NTT. Masih banyak desa yang miskin karena penggunaan dana desa tidak tepat sasaran dan tidak fokus pada produk unggulan desa. Sebagian besar dana desa justru “dilarikan” ke luar desa. Pembenahan harus segera dilakukan agar dana desa berdampak luas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Peneliti Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Arman Suparman meminta aparat desa membuat skala prioritas pembangunan. Pasalnya, dana desa dalam satu tahun anggaran tidak cukup membiayai seluruh pembangunan desa. “Desa mesti membuat skala prioritas, sehingga pembangunan desa bisa dilakukan secara bertahap berdasarkan skala tersebut,” ujar Arman kepada SP di Jakarta, Rabu (4/4). Soal sistem penyaluran dana desa, menurut Arman, sistem yang ada sekarang sudah cukup bagus, yakni dari rekening 
kas umum negara (RKUN) ke rekening kas umum daerah (RKUD), selanjutnya ke rekening kas desa (RKD). Yang menjadi persoalan adalah pencairan itu mengandaikan seluruh persyaratan dari level paling bawah (desa) sudah lengkap. “Keterlambatan pencairan selama ini lebih karena desa atau daerah belum melengkapi persyaratan tersebut,” tuturnya. Dikatakan, persoalan utamanya adalah kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) desa dalam menyiapkan dokumen persyaratan. Masih banyak desa yang belum mampu menyusun peraturan desa (perdes) mengenai APBDesa. “Karena itu, kehadiran pendamping desa menjadi sangat penting. Persoalannya kemudian, apakah pendamping desa memiliki kapasitas untuk itu? Sebab, ada desa yang mengeluh soal inkompetensi pendamping desa ini,” ujarnya. Seperti diketahui, besaran dana yang digelontorkan ke desa, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, cukup besar. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemdes PDTT) memperkirakan total dana yang mengalir ke 74.910 desa di seluruh Indonesia mencapai lebih dari Rp 300 triliun setiap tahun. Dana-dana yang lokusnya untuk desa ini datang dari berbagai sumber, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK), Alokasi Dana Desa (ADD), Dana Desa, dana dari provinsi, dan dana yang dikelola oleh setiap kementerian/lembaga, yang fokusnya ke pedesaan. Khusus Dana Desa saja, tahun ini pemerintah pusat mengucurkan Rp 60 triliun atau sekitar 3 kali lipat dari bantuan langsung tunai (BLT).
Problematika Berbeda Sekretaris Jenderal Kemdes PDTT Anwar Sanusi mengakui bahwa problematika di setiap daerah atau desa berbeda. Pada tahun pertama dan kedua pelaksanaannya, hampir 90% 
dana desa dibagikan rata untuk setiap desa tanpa membedakan kondisi tertentu, seperti luas wilayah, jumlah penduduk, dan tingkat kemiskinan. Daerah-daerah yang wilayahnya tidak terlalu luas atau jumlah penduduk serta kondisi kemiskinan tidak terlalu tinggi, lebih mampu menemukan akar persoalan di desa dan bisa segera dicairkan solusi yang tepat. Sementara, sebagian desa lagi masih berkutat dengan problematika yang sudah ada sebelum dana desa dikucurkan. Menurut Anwar, berbagai kekurangan dan persoalan dalam pengelolaan dana desa akan dikoreksi tahun ini. Desa-desa yang belum mampu mengelola anggaran akan menjadi fokus perhatian pemerintah pusat melalui berbagai intervensi, seperti program padat karya tunai. Tahun ini, pemerintah menargetkan 100 desa di 10 kabupaten menjadi sasaran program padat karya tunai. Hingga 2019, ditargetkan ada 1.000 desa di 100 kabupaten.
“Ini adalah salah satu solusi yang pemerintah buat untuk mengantisipasi berbagai keterpurukan atau ketertinggalan desa, seperti angka balita stunting yang tinggi, lapangan kerja minim, pengangguran tinggi, dan kondisi kemiskinan yang masih tinggi,” kata Anwar kepada SP di Jakarta, Selasa (3/4). Dikatakan, bila dilihat dari kebutuhan, dana yang masuk ke desa memang masih belum cukup. Untuk itu, Kemdes PDTT mencari sumber lain yang bisa mendorong pembangunan di desa. Salah satunya dengan mengembangkan Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades), di mana desa-desa yang tadinya miskin didorong untuk memiliki produk unggulan dengan skala produksi yang besar, sehingga meningkatkan ekonomi di desa tersebut. Masih banyak desa yang miskin, karena mereka tidak fokus pada produk unggulan tertentu. Selain itu, produk desa dijual dalam bentuk bahan baku atau bahan mental, sehingga nilai ekonominya kecil.
Dia mencontohkan, kopi mentah dari petani hanya dijual dengan harga sekitar Rp 300.000/kg. Padahal, bila disangrai saja, harga kopi ini bisa menjadi Rp 500.000 sampai Rp 700.000/kg. Nilai ekonomi kopi akan jauh lebih tinggi apabila dijual dalam bentuk siap seduh. Persoalannya, untuk menjual produk olahan, masyarakat desa membutuhkan mesin dan fasilitas lain dengan modal yang cukup besar. Pemerintah juga mendorong daerah membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Salah satu kegiatan BUMDes adalah memastikan tersedianya pasar untuk hasil produksi petani dengan harga jual layak. Saat ini sudah terbentuk 32.900 BUMDes dari 74.910 desa yang ada di Indonesia. Sebelumnya, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo mengatakan, tidak tepat bila dana desa dikatakan belum berdampak. Berdasarkan laporan dan data-data yang dihimpun Kemdes PDTT, dana desa sudah 
membawa banyak kemajuan baik, secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif, dalam tiga tahun saja, dana desa berhasil membangun infrastuktur terbanyak sepanjang sejarah Indonesia dengan menyerap total anggaran sekitar Rp 127 triliun. Dana Desa mampu membangun jalan desa sepanjang 123.145 meter, jembatan sepanjang 791.258 meter, 38.217.065 meter drainase, 6.223 unit pasar desa, 65.918 unit penahan tanah, dan 2.882 unit tambatan perahu, 1.927 embung, dan 28.091 irigasi desa. Selain itu, juga terbangun berbagai fasilitas sosial dasar, seperti 37.496 unit prasarana air bersih, 108.486 unit prasarana MCK, 30.212 unit sumur, 18.072 unit PAUD, 5.314 unit Polindes, 11.414 unit Posyandu dan 3.004 unit sarana olahraga desa. Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pemerintahan Desa (Binpemdes) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Nata Irawan mengatakan, dana desa membuat roda perekonomian di daerah meningkat, sehingga membawa dampak positif. “Sudah pasti dana desa positif, walau kita belum melakukan evaluasi secara menyeluruh. Uangnya besar, bahkan nanti pada 2019 sangat mungkin menjadi Rp 80 triliun,” ujarnya. Dikatakan, pemerintah pusat berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas SDM perangkat desa. Sebab, kapasitas yang rendah menjadi salah satu kelemahan atau hambatan dalam pengelolaan dan penyaluran dana desa. “Aparatur desa juga diberikan pemahaman soal manajemen pemerintahan desa, penyusunan peraturan desa, dan pengelolaan keuangan desa, termasuk perencanaan pembangunan desa. Provinsi ditetapkan sebagai pelatih utama. Nanti mereka melatih kabupaten, kemudian camat melatih kepala desa. Jadi, dibuat berjenjang. Sejak 2015, kami sudah sanggup melatih lebih dari 200.000 perangkat desa,” katanya. [YUS/D-13/C-6]


Sabtu, 21 April 2018

DOSA DAN KETERHILANGAN – Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong

Mendi blog.

DOSA DAN KETERHILANGAN – Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong


Artikel ini diterjemahkan dari teks ceramah berbahasa Inggris yang disampaikan dalam sidang pleno Lausanne II, di mana pembicara adalah satu-satunya wakil Asia Tenggara yang memimpin sidang pleno dalam Kongres di Manila ini.
Dosa dan fakta
Tidak menyadari adanya bahaya merupakan bahaya yang lebih besar daripada bahaya itu sendiri. Demikian juga kemasabodohan dan kesalahmengertian mengenai dosa adalah berbahaya seperti dosa itu sendiri.
Tuhan tidak membagi manusia ke dalam 2 kategori ketika Ia berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil yang benar, tapi yang berdosa untuk bertobat.” Ini hanya sebuah ironi untuk orang berdosa yang tidak sadar akan keadaan mereka yang berdosa itu. Alkitab mengajar dengan jelas bahwa dosa adalah fakta yang dibukakan oleh Allah yang benar kepada manusia yang berdosa. Namun kesulitannya terletak pada bagaimana orang berdosa dapat mengerti dengan tepat akan keberdosaannya. Karena dosa juga telah merusak pada aspek pengertian manusia. Itulah alasan mengapa Alkitab terus menerus mengajarkan bahwa satu-satunya jalan untuk menjadi sadar mengenai dosa manusia adalah melalui iluminasi Roh Kudus. Sejak zaman Renaisance pandangan dunia yang anthroposentris mengenai manusia alami telah mencoba untuk mengintepretasikan ‘Allah’ dan ‘jiwa’ melalui diri manusia sendiri yang berdosa sebagai titik pusat dari alam semesta. Dengan menjunjung tinggi rasio sebagai alat mutlak untuk menemukan kebenaran dan menganggap natur sebagai tujuan akhir dari hasil yang dicapai untuk memecahkan semua problem manusia. Tapi sejarah menyatakan kesaksian yang jujur mengenai kegagalan manusia. Di bawah segala pencapaian hasil dangkal dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, psikologi, filsafat, dan bahkan agama, ada penyebab, yang nyata dan konsisten, dari ketidakseimbangan dan masalah-masalah. Lingkungan kita padat dengan jiwa-jiwa yang kosong sementara berlimpah materi, penuh kekuatiran akan perang sementara pembicaraan mengenai perdamaian tidak berhenti, penuh dengan ketidakamanan sementara dihasilkan senjata-senjata yang tercanggih. Bertambahnya angka bunuh diri sementara tersedia alat kehidupan yang lebih baik; kehancuran keluarga meningkat sementara kebebasan sex dan percintaan makin meluas. Kita sedang bermimpi dari Renaisance sampai abad 20 mengenai otonomi manusia yang lepas dari campur tangan Allah. Khususnya sejak abad 19, begitu banyak ideologi yang muncul untuk menciptakan satu optimisme modern yang naif, termasuk teologi liberal, evolusionisme dan komunisme. Semua ini gugur pada perang-perang yang menakutkan dalam abad 20. Demikian juga dengan revolusi internasional, politik, komunisme dan politik nasional, dan filsafat eksistentialisme. Semua mencoba untuk memecahkan persoalan manusia tapi sekarang kita tetap hidup dalam situasi kacau, tanpa tahu ke mana tujuan sejarah ini. Bagi zaman ini masalah intinya adalah mencari identitas manusia. Kita tetap berjuang untuk demokrasi, kebebasan, keadilan dan hak-hak manusia. Tidakkah ini tetap mengatakan kepada kita bahwa dosa dan keterhilangan adalah fakta yang tidak dapat disangkal? Tidak heran kalau Karl Barth berjuang melawan 2 profesor liberalnya, Adolf von Harnack dan William Hermann, yang mengajarkan persaudaraan umat manusia pada satu sisi, dan di sisi yang lain menyetujui invansi Jerman. Tidak heran bila pemimpin liberal Dr. Fosdick harus mengakui bahwa kaum liberal telah mengabaikan pengajaran atas dosa, yang begitu konkrit, dan kaum konservatif lebih mengerti akan hal ini. Tidak heran bila Niebuhr harus menekankan kembali kepada pengajaran yang alkitabiah untuk mengerti dosa seperti yang dinyatakan oleh perang dunia, dalam bukunya The Nature and Destiny of Man. Ini juga menjadi alasan yang sama mengapa Tillich menulis dalam buku hariannya, dalam khotbahnya – untuk kaum militer dalam perang dunia yang pertama, “Saya tidak melihat kehancuran dari gedung-gedung dihadapanku, tapi kehancuran dari kebudayaan.” Kebudayaan kita tampaknya mati, bahkan Rusia dan Tiongkok setelah kemenangan mereka atas sistem politik yang lama dan setelah menjalankan komunisme untuk beberapa dekade, para pemimpin mereka merasa pentingnya suatu pembaharuan. Mereka tetap menghadapi banyak kesulitan untuk berjuang melawan diri sendiri.
Konsep Yang Salah Mengenai Dosa
Meskipun manusia mencoba untuk lari dari fakta dosa, menawarkan dan menafsirkan ulang, manusia tetap tidak akan pernah dapat melarikan diri dari pernyataan Allah mengenai dosa dalam Alkitab. Alkitab mengajarkan dengan jelas bahwa dosa dimulai dari sejarah kejatuhan Adam, manusia pertama dan wakil dari umat manusia, dan kemudian memasuki dunia. Sebelum kita berpikir mengenai pengertian dosa, pertama mari kita melihat konsep yang keliru mengenai dosa.
Pertama, Alkitab tidak memberikan satu tempatpun bagi konsep pra-eksistansi kekal dari dosa. Dosa bukan suatu keberadaan kekal yang ada dengan sendirinya. Juga dosa maupun kejahatan bukan realitas yang berdiri sendiri. Demikian juga Iblis dan kuasa-kuasa kejahatan. Tidak ada apapun dan siapapun, hanya Allah sendiri yang ada dengan sendirinya dan merupakan realitas yang kekal. Hanya Allah yang tanpa awal dan akhir. Alkitab langsung menolak ontologi dualisme dalam agama.
Kedua, Alkitab tidak memberikan tempat bagi konsep bahwa dosa diciptakan atau sumber dari kejahatan. Kata “kejahatan” dalam Yesaya 45:7 (dalam terjemahan versi King James) harus dimengerti sebagai hukuman Allah dalam sejarah, sebagai manifestasi dari kebenaran dan pemerintahan-Nya kepada dunia yang berdosa, tapi bukan kejahatan secara ontologi ataupun moral.
Ketiga, Alkitab tidak memberikan tempat untuk Allah dipandang bertanggung jawab atas dosa. Mengenai hal ini, satu hal yang dapat kita lihat dari Alkitab adalah satu izin yang misterius untuk munculnya kejahatan sebagai akibat dari salah penggunaan akan kebebasan yang diciptakan di dalam makhluk-makhluk rohani, yang juga menjadi aspek dari gambar dan rupa Allah dan juga menjadi fondasi penting bagi moralitas, tetapi yang harus dipertanggungjawabkan pada keadilan dan penghakiman Allah.
Maka dosa muncul dari ciptaan sendiri. Sebagai ciptaan dari yang dicipta untuk melawan Pencipta mereka. Dalam hal ini, Yesus berkata, “Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yohanes 8:44).
Apakah Dosa Itu
Sekarang kita memikirkan tentang dosa. Alkitab mengajarkan bahwa dosa lebih dari sekadar kegagalan etika. Untuk menyatakan dosa dengan sesuatu yang tidak tepat hanya mendangkalkan arti dosa itu.
Pertama, berbicara secara philologi, dosa berarti “tidak mencapai target”. Perjanjian Baru menggunakan kata hamartia untuk mengindikasikan bahwa manusia diciptakan dengan sebuah standar atau target sebagai tujuan dan arah hidup. Ini berarti kita harus bertanggung jawab kepada Allah. Ketika dosa datang, kita gagal untuk mencapai standar Allah. Setelah kejatuhan manusia, pandangan manusia mengenai target kehidupan menjadi kabur dan kehilangan kriteria arah hidup. Inilah alasan Allah untuk mengutus Anak-Nya untuk kembali menunjukkan standar itu dan menjadikan Dia sebagai kebenaran dan kesucian kita. Tujuan hidup manusia hanya dapat ditemukan kembali melalui contoh sempurna dari Kristus yang berinkarnasi.
Kedua, berbicara dari sudut posisi, dosa adalah satu perpindahan dari status yang mula-mula. Manusia diciptakan berbeda, dalam perbedaan posisi, dengan tujuan untuk menjadi saksi Allah, diciptakan antara Allah dan Iblis, baik dan jahat. Setelah kejatuhan setan, manusia diciptakan dalam kondisi netral dari kebaikan, yang dapat dikonfirmasikan melalui jalan ketaatan, diciptakan sedikit lebih rendah dari Allah tapi mempunyai dominasi atas alam, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ketaatan yang benar dari manusia di hadapan pemerintahan Allah adalah rahasia untuk mengatur alam, dan untuk mencapai tujuan benar dari kemuliaan natur pencipta dalam hidup manusia. Segala pencobaan datang kepada manusia selalu dalam usaha mencoba untuk membawa manusia jauh dari posisi rencana Allah yang mula-mula. Kemudian datang kekacauan. Hal yang sama terjadi juga kepada malaikat tertinggi ata Alkitab mengatakan, “Mereka tidak mempertahankan status mereka yang pertama” untuk menjelaskan kejatuhan mereka. Inilah satu konsep yang benar dalam mengerti mengenai dosa.
Ketiga, dosa adalah penyalahgunaan kebebasan. Penghormatan terbesar dan hak istimewa yang Allah berikan kepada manusia adalah karunia kebebasan. Kebebasan menjadi satu faktor yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagi fondasi dari nilai moral. Hasil moral hanya dapat berakar dalam kerelaan, tidak lahir karena paksaan. Arti kebebasan mempunyai dua pilihan: hidup berpusatkan Allah atau hidup berpusatkan diri sendiri. Ketika manusia menaklukkan kebebasannya di bawah kebebasan Allah, itulah pengembalian kebebasan kepada pemilik kebebasan yang mula-mula. Jenis pengembalian ini mencari kesukacitaan dari kebebasan dalam batasan kebenaran dan kebaikan Allah. Sejak Allah adalah realita dari kebaikan itu sendiri, segala macam pemisahan dari-Nya akan menyebabkan keburukan, dan juga hidup berpusatkan diri sendiri jelas penyebab dosa. Terlalu berpusat pada diri sendiri akan menjadi awal ketidakbenaran. Kebebasan tanpa batas dari kebenaran Allah akan menjadi kebebasan yang salah. Bukanlah suatu kebebasan yang dimaksudkan Yesus ketika Ia berkata, “Tidak seorangpun dapat mengikuti Aku tanpa menyangkal dirinya sendiri.”
Keempat, dosa adalah kuasa yang menghancurkan. Dosa tidak hanya gagal dalam pengaturan tapi lebih dari itu adalah kuasa yang mengikat terus menerus yang tinggal dalam orang berdosa. Paulus menggunakan bentuk tunggal dan bentuk jamak dari dosa dalam kitab Roma. Bentuk jamak dari dosa mengindikasikan perbuatan-perbuatan salah, tapi bentuk tunggal dari dosa berarti kuasa yang mengarahkan segala perbuatan dosa. Paulus mempersonifikasikan dosa sebagai kuasa yang memerintah dan prinsip yang mengatur kehidupan orang berdosa. Ia juga merusak semua aspek kehidupan kepada satu tingkatan di mana tidak ada satu aspek kehidupan pun yang tidak kena distorsi atau polusi. Inilah yang ditekankan dan dijelaskan Reformator. Berjuang melawan pengertian tidak lengkap mengenai kuasa dosa dalam Scholastisisme abad pertengahan. Dosa tidak hanya mencemarkan aspek kehendak, tapi juga berpenetrasi pada aspek emosi dan rasio. Tujuan utama dari kuasa penghancur ini untuk menyebabkan manusia menghancurkan diri sendiri dan membunuh diri sendiri seperti yang dikatakan Kierkegard, bahwa manusia dilahirkan dalam dosa. Satu-satunya kuasa yang kita miliki adalah kuasa untuk membunuh kita sendiri.
Kelima, dosa adalah penolakan terhadap kehendak Allah yang kekal. Akibat utama dari dosa tidak hanya merusak manusia tapi juga melawan kehendak Allah yang kekal melalui manusia. Inilah hal yang paling serius yang berhubungan dengan kesejahteraan rohani semesta. Calvin mengatakan, “Tiada yang lebih besar daripada kehendak Allah kecuali Allah sendiri.” Ciptaan alam semesta, keselamatan umat manusia dan kebahagiaan kekal semua ada oleh kehendak Allah. Sejak dosa menolak terhadap kehendak Allah maka orang Kristen harus sadar pentingnya ketaatan yang setia kepada kehendak Allah. Seperti Kristus mengajarkan murid-murid-Nya untuk berdoa, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Alkitab juga mengajarkan kita dalam 1Yohanes 2:17, bahwa dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Dosa dan Relasi Alam Semesta
Dosa tidak berhenti sebagai peristiwa saja tetapi terjadi perusakan yang lebih lanjut dalam orang berdosa dan menganggu seluruh susunan alam semesta. Dosa menghancurkan hubungan-hubungan baik secara pribadi maupun semesta, termasuk hubungan Allah dengan manusia, manusia dengan manusia. Dalam suatu pengertian yang lebih dalam, dosa juga menghancurkan hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu dosa membuat mustahilnya hidup harmonis, tapi yang paling dalam adalah rusaknya hubungan manusia dengan Allah. Dari hak mula-mula yang kita miliki, kita diciptakan lebih tinggi dari alam. Alam diciptakan untuk manusia. Berarti manusia menikmati, menyukai, mengatur, memelihara dan menafsirkan alam dalam menjalankan fungsi kenabiannya. Tapi dosa telah membalikkan manusia sebagai penghancur, musuh, bahkan penghancur alam. Menyelidiki alam dan menemukan kebenaran Allah yang tersembunyi di dalamnya adalah dasar ilmu pengetahuan, tetapi sejak timbulnya dosa, ilmu pengetahuan gagal untuk berfungsi sebagai alat untuk memuliakan Allah dan berbalik kepada kemungkinan digunakan sebagai alat setan untuk menghancurkan Allah dan manusia. Sebagai akibat rusaknya hubungan antar manusia, manusia kehilangan potensi untuk merefleksikan kasih dari Allah Tritunggal, yang menjadi model bagi komunitas manusia. Saling menghargai atau menghormati, saling percaya, saling melengkapi adalah ketidakmungkinan dalam masyarakat kita. Sebaliknya kita melihat pemutlakan dari setiap individu sendiri untuk menolak orang lain dengan hidup berpusat pada diri sendiri yang menyebabkan tekanan dan sakit hati yang tanpa akhir dalam komunitas kita bahkan dalam hubungan internasional. Sebagai akibat dari hancurnya hubungan antara manusia dan diri sendiri, manusia menjadi musuhnya sendiri. Ia kehilangan semua damai rohani, perlindungan kekal, dan keyakinan akan arti hidup. Dan selanjutnya keberadaan manusia jadi sebuah pulau yang terisolasi dalam alam semesta, keberadaan yang lain menjadi neraka yang menyiksa dan kenihilan tampaknya sebagai suatu yang ada, yang menelan keberadaan kita ke dalam kenihilan. Semua terefleksi dalam eksistensialis atheistik modern.
Pemutusan hubungan yang paling serius dalam hubungan antara manusia dengan Allah, menjadi penyebab putusnya hubungan-hubungan yang lain. Ketika manusia dipisahkan dari Allah menjadi tanda tidak lagi ada relasi lain yang dapat diperbaiki. Tertutup semua kemungkinan damai tiap pribadi dalam roh dan damai universal di bumi. Seluruh abad 20 adalah ladang pelaksana dari ideologi abad 19 dan kita lihat tidak ada pengharapan sejati bagi masa depan kita, juga sekarang dalam dekade akhir dari abad ini. Kita tetap menghadapi ketidaktahuan akan kemungkinan masadepan. Tidakkah kini waktu yang tepat dibandingkan waktu lain untuk berpikir ulang dengan mendalam dan dengan tenang mengadakan evaluasi ulang? Segala kelemahan dari teologi yang muncul dari humanisme anthroposentris.
Alkitab mengatakan Allah adalah kasih, Allah adalah Hidup, Allah adalah Terang. Ia juga Allah dari Kebenaran, Kebaikan dan Kesucian. Apa model lingkungan yang kita miliki jika kita terpisah dari Allah yang sedemikian seperti yang dinyatakan dalam Kristus? Hanya satu kemungkinan yang tersedia bagi kita yaitu kebencian, kematian, kegelapan, penipuan, ketidakadilan, dan kerusakan-kerusakan yang jelas kita lihat pada zaman ini. Tidakkah kita harus mengakui bahwa ada gap besar antara mandat kultural Allah kepada manusia dengan hasil kultural yang dicapai manusia? Itulah dosa.
Dosa dan Keterhilangan
Akibat dari keterpisahan dari Allah jelas memimpin keberadaan orang berdosa ke dalam status keterhilangan, terhilang dari dukungan dan kehadiran Allah.
Pertama, dosa menyebabkan manusia tidak memenuhi kemuliaan Allah. Konsep Agustinus bahwa dosa sebagai kekurangan, harus lebih dimengerti sebagai akibat dosa dalam manusia daripada penafsiran mengenai dosa itu sendiri. Ketika dosa muncul, kemuliaan Allah langsung meninggalkan manusia. Ini berarti kehilangan hak istimewa manusia sebagai wakil Allah untuk menjadi reflektor kemuliaan-Nya. Kehilangan kemuliaan Allah dari manusia, membuat manusia berada dalam suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Manusia akan hidup tanpa hormat dan kemuliaan, pendidikan akan menolak kebenaran, hak-hak manusia tidak mempunyai kebaikan, pengetahuan tanpa hikmat, pernikahan tanpa kasih, dan ilmu pengetahuan tanpa hati nurani / kesadaran, kebebasan tanpa kontrol. Inilah yang terefleksi dalam kitab Yehezkiel bahwa kemuliaan Allah bergerak secara perlahan-lahan dan meninggalkan Bait Allah. Berarti penghukuman Allah sudah dekat, akhir dunia sudah berada di ambang pintu.
Sejak zaman Renaisance, pandangan dunia yang anthroposentris mengenai manusia alami telah mencoba untuk mengintepretasikan ‘Allah’ dan ‘jiwa’ melalui diri manusia sendiri yang berdosa sebagai titik pusat dari alam semesta. Dengan menjunjung tinggi rasio sebagai alat mutlak untuk untuk menemukan kebenaran dan menganggap natur sebagai tujuan akhir dari hasil yang dicapai untuk memecahkan semua problem manusia. Tapi sejarah menyatakan kesaksian yang jujur mengenai kegagalan manusia. Di bawah segala pencapaian hasil dangkal dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, psikologi, filsafat dan bahkan agama, ada penyebab, yang nyata dan konsisten, dari ketidakseimbangan dan masalah-masalah.
Lingkungan kita padat dengan jiwa-jiwa yang kosong sementara berlimpah materi, penuh kekuatiran akan perang sementara pembicaraan mengenai perdamaian tidak berhenti, penuh dengan ketidakamanan sementara dihasilkan senjata-senjata yang tercanggih. Bertambahnya angka bunuh diri sementara tersedia alat kehidupan yang lebih baik; kehancuran keluarga meningkat sementara kebebasan sex dan percintaan makin meluas. Kita sedang bermimpi dari Renaisance sampai abad 20 mengenai otonomi manusia yang lepas dari campur tangan Allah. Khususnya sejak abad 19, begitu banyak ideologi yang muncul untuk menciptakan suatu optimisme modern yang naif, termasuk teologi liberal, evolusionisme dan komunisme. Semua ini gugur pada perang-perang yang menakutkan dalam abad 20. Demikian juga dengan revolusi internasional, politik, komunisme dan politik nasional, dan filsafat eksistentialisme. Semua mencoba untuk memecahkan persoalan manusia tapi sekarang kita tetap hidup dalam situasi kacau, tanpa tahu ke mana tujuan sejarah ini. Bagi zaman ini masalah intinya adalah mencari identitas manusia. Kita tetap berjuang untuk demokrasi, kebebasan, keadilan, dan hak-hak manusia. Tidakkah ini tetap mengatakan kepada kita bahwa dosa dan keterhilangan adalah fakta yang tidak dapat disangkal kaum Injili di seluruh dunia menegaskan ulang kesungguhan dari fakta dan efek dosa seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Penegasan ini lebih dari sekadar kebutuhan mendesak dalam era post-liberal dan post-modern, secara teologis dan sosia-politis. Dengan pengertian mendalam mengenai kebutuhan orang-orang berdosa akan keselamatan, cinta kasih berapi-api bagi orang berdosa, mari kita dengan setia memberitakan Injil ke dalam dunia yang berdosa.
“Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat.” “Lihat Anak Domba Allah yang mengangkat dosa seluruh dunia.” Kata-kata pendahuluan yang agung dari Injil tetap berlaku sampai akhir zaman. Mari kita berseru, “Bertobatlah hai umat, koyakkan hatimu, bukan jubahmu!” kepada para pemimpin dan umat di dunia! Tinggikan salib Kristus yang menjadi pengharapan satu-satunya dari umat manusia, agar Roh Kudus mengiluminasikan generasi kita untuk menerima Kristus. Biarlah seluruh makhluk dengan rendah hati mengaku dosa di hadapan Allah, untuk membuka kembali pintu surga dan memohon belas kasihan dan pengampunan dari-Nya, yang akan menyembuhkan dunia yang berdosa.
Yang layak adalah Anak Domba yang telah disembelih! Kemuliaan bagi-Nya untuk selama-lamanya!
________________________________________
Dikutip dari http://www.geocities.com/thisisreformed/artikel/pi_hilang.html